Video Rasis Obama Jadi Kera Gegerkan AS, Trump Mengelak Tak Bersalah

Video Rasis Obama Jadi Kera Gegerkan AS, Trump Mengelak Tak Bersalah
WASHINGTON, DC – 3 Maret 2025: Presiden AS Donald Trump didampingi Menteri Perdagangan Howard Lutnick menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih. Trump mengumumkan rencana investasi TSMC senilai US$100 miliar di Amerika Serikat. (Foto: Andrew Harnik/Getty Images)

Klikbacanews.com– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik sebuah video dari akun media sosialnya setelah menuai kecaman luas karena dinilai bermuatan rasis.

Video tersebut menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama yang digambarkan sebagai kera.

Video berdurasi 62 detik itu diunggah Trump melalui platform Truth Social. Isinya mengulang klaim lama tentang dugaan kecurangan dalam Pemilu Presiden AS 2020.

Konten tersebut memicu kemarahan publik setelah pada bagian akhir video, wajah keluarga Obama ditampilkan menempel pada tubuh monyet, diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight.

Menanggapi polemik tersebut, Trump mengaku tidak merasa bersalah. Kepada wartawan pada Jumat, ia menyatakan hanya sempat melihat bagian awal video sebelum diunggah oleh stafnya dan mengklaim tidak mengetahui adanya muatan rasis.

“Saya tidak melakukan kesalahan,” ujar Trump, dikutip dari media asing.

LIHAT JUGA :  Amerika Serikat Serang Venezuela, Trump Sampaikan Klaim Penangkapan Maduro

Awalnya, Gedung Putih membela unggahan itu dengan menyebutnya sebagai meme internet dan menuding para pengkritik melakukan “kemarahan palsu”.

Namun, setelah kecaman meluas — termasuk dari sejumlah senator Partai Republik — video tersebut akhirnya dihapus.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut unggahan itu dilakukan “secara keliru” oleh staf.

Video tersebut diketahui berasal dari unggahan di platform X pada Oktober lalu, yang dibagikan oleh pembuat meme konservatif.

Selain keluarga Obama, video itu juga menampilkan sejumlah tokoh Partai Demokrat yang digambarkan sebagai hewan, di antaranya anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez, Wali Kota New York Zohran Mamdani, dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

Mantan Presiden Joe Biden juga digambarkan sebagai kera yang tengah memakan pisang.

Hingga kini, keluarga Obama belum memberikan pernyataan resmi terkait beredarnya video tersebut.

LIHAT JUGA :  FBI Sita Senapan Bolt-Action Mauser Milik Penembak Charlie Kirk

Kecaman Terhadap Trump

Unggahan itu memicu kritik keras dari berbagai kalangan politik di Amerika Serikat.

Senator Tim Scott dari Carolina Selatan, yang dikenal sebagai sekutu Trump, menyebut video tersebut sebagai

“hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini” dan mendesak agar segera dihapus.

Anggota DPR Mike Lawler dari New York mengecam video itu sebagai “salah dan sangat menyinggung”, serta menilai seharusnya disertai permintaan maaf.

Senator John Curtis dari Utah menyebut konten tersebut “jelas rasis dan tidak dapat dimaafkan”, serta menegaskan bahwa video itu tidak seharusnya diunggah atau dibiarkan beredar.

Kritik juga datang dari Partai Demokrat dan tokoh masyarakat.

Presiden NAACP Derrick Johnson menyebut video itu “menjijikkan dan sangat tercela”, serta menuding Trump berusaha mengalihkan perhatian publik dari isu lain seperti kondisi ekonomi dan persoalan hukum yang membelitnya.

LIHAT JUGA :  Bukan Imigran, Perawat AS Justru Tewas dalam Operasi ICE di Minneapolis

Mantan pejabat Gedung Putih era Obama, Ben Rhodes, menyatakan video tersebut “akan menjadi noda bagi Trump dan para pengikut rasisnya”.

Gubernur Illinois JB Pritzker secara terbuka menyebut Trump sebagai rasis, sementara kantor Gubernur California Gavin Newsom menyebut unggahan itu sebagai “perilaku menjijikkan oleh presiden” dan menyerukan agar seluruh anggota Partai Republik ikut mengecamnya.

Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries turut melontarkan kecaman keras dengan menyebut Trump sebagai

“makhluk menjijikkan, tidak waras, dan jahat”, serta mendesak seluruh legislator Partai Republik untuk mengutuk apa yang ia sebut sebagai kefanatikan Trump.

Kontroversi ini mencuat di tengah peringatan Black History Month di Amerika Serikat, periode yang meningkatkan sensitivitas publik terhadap isu rasisme dan representasi rasial. (***)

Editor : Darwis